Lompat ke konten
Beranda » Investasi Saham » Tingkat Suku Bunga vs Bond Fixed-Rate : Interest Rate Risk

Tingkat Suku Bunga vs Bond Fixed-Rate : Interest Rate Risk

Suku Bunga dan Harga Bond

Beberapa waktu yang lalu, ada anggota grup telegram yang membeli Sukuk Negara Ritel Seri SR016 dengan tingkat suku bunga (kupon) 4.9%. Dia membeli di pasar sekunder dengan harga face value. Walau dijamin pokoknya utuh jika HODL sampe mature, hampir bisa dipastikan dia akan mengalami kerugian, yaitu menderita EOL (expected opportunity loss).

Ini pengetahuan dasar, tapi siapa tahu ada yang belum tahu dan butuh.

Ketika suku bunga trennya lagi naik, sebaiknya hindari beli fixed-rate bonds. Terutama obligasi dengan tenor panjang, contohnya ORI, SUKUK, Bond, atau deposito. Kenapa begitu? Yuk, simak dude!

Hubungan Tingkat Suku Bunga dan Harga Bond Fixed-Rate

Jadi apa hubungannya tingkat suku bunga dan harga obligasi (fixed-rate) di pasar sekunder?

Pada umumnya, tingkat suku bunga berbanding terbalik dengan harga obligasi suku bunga tetap di pasar sekunder. Misalnya ketika interest rate naik, harga obligasi di pasar sekunder turun. Hal ini sangat logis, jika kita paham alasannya. Misalnya bond A kupon 4%, lalu interest rate naik jadi 6%, otomatis bond A nilainya turun. Karena saat ini ada aset lain yang menawarkan bunga/kupon lebih tinggi yaitu 6%. Bond A akan turun sedemikian sehingga kupon A mendekati 6%.

Lihat tabel berikut ini, ketika suku bunga meningkat, maka biasanya harga bond di pasar sekunder akan turun, sampai keduanya memiliki coupon yield yang sama.

Suku bunga naik, harga bond turun
Ketika suku bunga naik, harga bond turun. Sumber : SEC.

Jadi jelas, mengapa membeli SR kupon 4.9% saat ini rugi. Karena anda hanya dapat 4.9% per tahun sampai mature, sementara sekarang sudah lebih dari itu dan berpotensi lebih tinggi lagi. Kalau anda ingin jual di pasar sekunder, harga pokoknya akan turun nilainya, sampai yield SR tersebut kira-kira setara 6%. Kalau pun anda berencana pegang sampai jatuh tempo, anda hanya akan dapat 4.9% sedangkan suku bunga umumnya sudah jauh lebih tinggi. Inilah mengapa tadi saya sebut ada EOL EOL (expected opportunity loss), di mana seharusnya bisa dapat 7% misalnya, tapi hanya dapet 4.9%.

Hal sebaliknya juga berlaku. Ketika suku bunga trennya turun, maka bond dengan kupon yang tinggi nilainya akan naik di pasar sekunder.

Jadi seharusnya anda beli fixed-rate bond ketika tren suku bunga turun, dan jual (atau jangan beli) ketika tren suku bunga akan naik.

Alasan Jangan Beli Fixed-Rate Bond Saat Ini

Saat ini suku bunga masih relatif rendah dan baru akan mulai naik. Mata uang USD juga lagi menguat dan The Fed kelihatannya masih bakal menaikkan suku bunga walau mungkin tidak sedasyhat sebelumnya, naik 75 bps sekaligus.

Fed Funds Rate
Fed Funds Rate. Sumber : Fred.

Lebih jauh tentang hal ini, anda bisa baca di tulisan saya sebelumnya yaitu Era Suku Bunga dan Inflasi Tinggi? dan Alasan Bursa Saham Bullish, Potensi Bubble, dan Cara Menyikapinya.

ORI, SR, SBR, dan sejenisnya dengan kupon 4-5% itu malah suku bunga terendah selama ini, sebelumnya sempat sampe 8-9%, bahkan lebih. Lihat tabel berikut.

Tingkat Bunga ORI 2006-2022
Tingkat Bunga ORI 2006-2022. Sumber : Wikipedia.

Karena USD menguat dan The Fed masih akan menaikkan suku bunga, Bank Indonesia logikanya masih bakal menaikkan tingkat suku bunga lagi.


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Penjelasan Interest Rate Risk dari SEC

Berikut ini penjelasan lebih detil tentang Interest Rate Risk dari SEC.

Interest Rate Risk
Interest Rate Risk
Suku Bunga dan Harga Bond
Suku Bunga dan Harga Bond

Tren Tingkat Suku Bunga Naik : What To Do

Apa yang harus kita lakuin kalau saat ini ada porsi cash dana dingin?

1. Jangan masuk obligasi suku bunga tetap dengan lock-period (tenor) panjang. Karenan suku bunga kemungkinan besar masih akan naik. Dengan membeli fixed-rate bond sekarang, kita bisa kehilangan opportunity cost (hanya dapet 4-5% sementara nantinya bakal 8% misalnya).

2. Pilihan lainnya bisa sementara masukkan saja ke deposito dengan tenor singkat misalnya 1-3 bulan.

3. Alternatif lain, bisa masukkan ke Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Alasannya karena RDPU sangat likuid, bisa anda cairkan kapan saja tanpa penalti, dan biasanya tiap hari NAV bertumbuh. Return RDPU biasanya mirip dengan deposito/ORI, silakan saja pilih mana yang anda cocok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *