Beranda » Psikologi Saham » Saham Positive-sum Game atau Zero-sum Game?
Saham Zero-sum Game atau Positive-sum Game

Saham Positive-sum Game atau Zero-sum Game?

Apakah saham termasuk zero-sum game atau positive-sum game? Saham bisa termasuk kedua-duanya, tergantung sudut pandang dan metode yang anda pakai.

Beberapa waktu yang lalu, ada yang bertanya di Stockbit tentang hal ini. Saya pikir, ini topik yang cukup menarik untuk kita bahas.

Berikut pertanyaan beliau, satu tuliskan ulang

“di Bursa saham ini….bisa ga sih….semuanya untung….atau jika ada yang untung pasti ada yang rugi atau dengan kata lain….cuan kita berasal dari kerugian orang lain?”

Jadi pada dasarnya, beliau menanyakan apakah saham adalah zero-sum game?

Apa Itu Zero-Sum Game?

Sebagian besar pasti sudah tahu istilah zero-sum game, tapi agar jelas ada baiknya kita bahas sekilas. Dalam Game Theory, zero-sum game adalah situasi di mana keuntungan satu orang setara dengan kerugian orang lain. Sehingga perubahan bersih dalam kekayaan atau manfaat adalah nol. Dalam situasi tersebut, A cuan 10 juta jika B rugi 10 juta, perubahan kekayaannya adalah nol. Contoh paling umum adalah permainan judi di mana total kemenangan beberapa pemain adalah sama dengan total kerugian pihak yang kalah.

Maka jelas, pertanyaan member tersebut, “…cuan kita berasal dari kerugian orang lain” adalah mengacu ke zero-sum game.

Saham Bisa Menjadi Zero-sum Game

Menjawab pertanyaan tersebut, saham bisa hanya akan jadi zero-sum game jika isinya HAKA BUKI, satu orang menjual untung dan lawannya menjual rugi. Hal ini bisa terjadi pada saham-saham gorengan yang naik-turunnya memang murni dipengaruhi supply dan demand sesaat – terkadang bahkan nyerempet manipulasi.

Terlebih jika yang anda lihat adalah jangka pendek, maka sangat mungkin saham menjadi ajang zero-sum game. Paling nyata terjadi jika sudah mengarah ke permainan The Greater Fool, di mana yang terakhir kali membeli akan menjadi yang “yang terbodoh” yang harus menanggung kerugian.

Malah bisa jadi, saham termasuk negative-sum game (total keuntungan bersih kurang dari nol) karena ada komisi broker dan pajak final untuk tiap transaksi.

Untungnya, saham tidak sekedar kertas (atau lembar di OLT). 😎 Namun sebelum ke sana, saya jelaskan dulu tentang istilah positive-sum game.

Apa Itu Positive-Sum Game?

Dalam Game Theory, istilah positive-sum game digunakan dalam situasi di mana total keuntungan dan kerugian lebih besar dari nol. Atau dengan kata lain, total keuntungan lebih besar dari total kerugian. Jumlah yang positif ini akibat – entah bagaimana dan darimana – ada penambahan sumber daya (misalnya kekayaan) sehingga hasilnya menjadi positif. Akibatnya dalam situasi ini, bisa terjadi win-win solution…. seluruh partisipan mendapatkan keuntungan. KREN kan? 😎

Contohnya di dunia riil adalah bisnis perdagangan.

Berdagang – asumsi fair trade – termasuk positive-sum game. Karena di tiap tahapnya setiap pelaku mendapatkan margin laba dan tiap orang merasa mendapatkan keuntungan.

Produsen produksi barang dan menjual produknya ke distributor, distributor jual ke grosir, pedagang grosir jual ke pengecer, sampai akhirnya pengecer jual ke end user. Masing-masing partisipan mulai dari produsen, distributor, grosir, pengecer dapat margin laba.

Bagaimana dengan end user? End user merasa mendapatkan manfaat, misalnya kenyang kalau produknya makanan, sehat jika yang dibeli obat, atau puas setelah menggunakan jasa, dan lain-lain. Keseluruhan proses ini adalah positive-sum game, tidak ada yg dirugikan, semua mendapatkan keuntungan (manfaat).


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Saham adalah Positive-Sum Game

Kembali ke pertanyaan awal member SB tadi, “Di Bursa saham ini bisa ga sih semuanya untung atau… cuan kita berasal dari kerugian orang lain?”

Jawabannya, BISA. Semua bisa untung karena saham pada dasarnya bukan zero-sum game, melainkan positive-sum game.

Kok bisa semua untung?

Ingat, di balik tiap saham ada perusahaan yang menjalankan bisnisnya. Dari bisnis inilah nantinya ada nilai tambah, yang berasal dari laba bersih dan cash flow positif yang dihasilkan perusahaan dari operasionalnya. Profit dan cash flow ini nantinya akan jadi dividen atau meningkatkan nilai intrinsik emiten tersebut. Hal ini menyebabkan sumber daya yang dapat dibagikan ke seluruh partisipan selalu positif alias semua bisa untung.

Kalau anda melihatnya seperti ini, maka seharusnya memang investasi saham bukan zero-sum game, tapi investasi saham adalah positive-sum game.

Contoh positive-sume game di saham misalnya, A beli saham di harga 500, karena alasan tertentu lalu jual ke B dengan harga 700. Kemudian B HODL saham tersebut dan mendapatkan keuntungan di tahun-tahun mendatang dari kinerja perusahaan. Dalam kasus ini, tidak ada yang dirugikan. Semua untung.

Singkatnya, semua bisa untung, asalkan dengan dua syarat :

  1. Beli di harga wajar dan biarkan saja.
  2. Perusahaannya untung. Nilai intrinsiknya naik atau perusahaan membagikan dividen.

Perhatikan saya tulis poin pertama, beli di harga wajar, ini artinya pembeli dan penjual sama-sama “untung” atau setidaknya terjadi fair trade. Tapi sayangnya (atau untungnya? 🙈), seringkali harga (price) dan nilai (value) suatu saham jaka sembung alias gak nyambung. Jadi kadang ada yang kemurahan (yang beli untung, yang jual rugi), kadang ada yangg kemahalan (yang jual untung, yang beli rugi).

Jadi walau saham adalah positive-sum game, anda tetap bisa menderita kerugian, jika :

  1. Beli terlalu mahal atau CL (Cut Loss) di tengah jalan.
  2. Perusahaannya ternyata rugi dan nilai intrinsiknya turun.

Untuk menghindari membeli terlalu mahal, anda bisa baca tulisan saya tentang Strategi Membeli Saham Agar Average Buy Optimal? Baca juga When To Sell? Strategi Jual Saham Agar Makin Cuan

Sebagai penutup, saat menulis ini, saya jadi teringat Warren Buffett pernah singgung tentang hal ini di Letter 2020.

Saham adalah positive sum game
Saham adalah positive sum game. Sumber : Warren Buffett Letter 2020.

Demikian dude. Silakan kalo ada komen atau saran.

Ada komen, dude?

Scroll to Top