Lompat ke konten
Beranda » Psikologi Saham » When To Sell? Strategi Jual Saham Agar Makin Cuan

When To Sell? Strategi Jual Saham Agar Makin Cuan

Strategi Jual Saham - When To Sell?

Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang Strategi Jual Saham agar cuan makin besar dengan memanfaatkan sifat Mr. Market yang irasional. When and How To Sell?

Sebelumnya saya telah menulis Bagaimana Strategi Membeli Saham Agar Average Buy Optimal? Silakan baca jika belum. Kalo sudah, tidak ada salahnya baca sekali lagi 😜

Pada tulisan Investasi Saham Untuk Pemula : Langkah Awal, secara singkat telah saya jelaskan tentang Kapan Saat Yang Tepat Untuk Menjual Saham. Berikut ini saya tuliskan ulang khusus bagian tersebut.

Alasan Rasional Jual Saham

Saat yang tepat untuk jual saham anda adalah ketika :

  1. Harga pasar telah jauh di atas harga wajar. TP (Take Profit), hal yang sangat didambakan setiap investor. Congrats!
  2. Jika di tengah jalan ada fakta baru yang tidak sesuai asumsi awal, FA memburuk, dan harga pasarnya sekarang jauh di atas harga wajar. Bisa TP bisa CL (Cut Loss), pokoknya SELL karena sudah tidak sesuai lagi.
  3. Tidak disarankan terlalu sering dilakukan : Karena ada kesempatan yang lebih baik di aset lain.

Selain ketiga alasan tersebut, tidak ada alasan rasional untuk jual saham. Tetap hold saja saham anda sambil belajar bersabar, ikuti terus perkembangan emiten secara berkala dan update catatan anda.


Jika anda investor saham, pasti sudah hapal tiga poin tersebut. Selama ini saya menerapkan prinsip tersebut dan seharusnya tidak salah, logis sekali. Nasihat yang sama juga akan anda temukan jika membaca/mendengar para super investor. Namun ada yang terasa kurang.

Topik kali ini khusus membahas saham dengan posisi cuan (Floating Profit). Untuk kasus harga saham masih di bawah harga wajar, prinsipnya tetap sama : HODL! selama anda yakin memang masih di bawah nilai intrinsiknya.

Jadi pada dasarnya, masalah yang akan kita bahas ini masalah yang enak – posisi cuan, dude – tapi mungkin bisa kita optimalkan biar makin enak 😍 Tulisan kali ini juga bukan tentang analisis fundamental, melainkan masalah teknis, tentang strategi yang berpotensi memaksimalkan cuan.

Habis Jual Saham, Eh Asem Sahamnya Terbang!

Dari pengalaman pribadi, tidak jarang saham-saham yang telah saya jual, ternyata masih terus naik… dan kadang naiknya gila-gilaan. Pasti kita juga sering alami ini kan, abis jual eh sahamnya terbang? All gas, no brakes, baby!

Alasan saya jual saham mengacu prinsip umum di atas : Jual ketika harga pasar lebih tinggi dari nilai wajarnya (overpriced/overvalued). Lah, terus di mana masalahnya? Kan emang gitu, dude?

Iyaa, tadinya saya juga berpikir begitu, sampai saya tercerahkan oleh Peter Lynch.

Peter Lynch : Kesalahan Utama Saya Selalu Jual Saham Terlalu Cepat

Saya suka membaca kutipan super investor. Kutipan yang sama bisa saya baca berulang-ulang dan tiap kali saya terpikirkan dan/atau tercerahkan sesuatu yang baru.

Nah, suatu ketika saya membaca kutipan Peter Lynch ini :

Selling an outstanding fast grower because its stock seems slightly overpriced is a losing technique.

Peter Lynch

Saya sebelumnya sudah pernah membacanya, tapi baru waktu itu tersadarkan maknanya. AH… Betul juga ya…

Prinsip jual saham jika harganya telah melampaui nilai wajar adalah benar. Tapi, kita tahu pasar saham adalah tempat orang-orang irasional 🙈dan karenanya kita bisa mengoptimalkan cuan kita dengan mengeksploit kegilaan pasar.

Secara prinsip, jika nilai intrinsiknya sekitar 1000, maka pada level harga 1000an saatnya kita jual. Tapi ada kalanya harga suatu saham akan naik lebih tinggi. Walau wajarnya 1000, tapi jika kita bisa jual 1500, 2000, atau bahkan 10000, kenapa tidak?

Di grup telegram saya pernah bercanda. Yang benar adalah Cut Profit bukan Take Profit, dan Take Loss bukan Cut Loss. Karena saat kita jual, kita telah menutup rapat peluang untuk profit lebih besar. Dan ketika kita jual rugi, kita telah pasrah dan merealisasikan kerugian riil, yang sebenarnya masih di atas kertas selama belum dijual.


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Saham Salah Harga

Coba pikir ulang. Ketika kita mau beli saham, apa yang kita cari? YA! Saham SALAH HARGA. Kenapa bisa ada saham salah harga? Karena Mr. Market irasional.

Saham salah harga, tidak eksklusif berlaku saat membeli saham, tapi juga saat menjual saham. Kita bisa jual di harga yang salah…. keduanya sama-sama memanfaatkan market madness. Bedanya saat membeli saham, harganya irasional terlalu murah (valuasi saham tersebut jauh di bawah harga wajar) dan saat menjual, harganya irasional terlalu mahal (jauh di atas harga wajar). Masuk akal?

Peter Lynch, Forbes 2017.

Gambar di atas adalah kutipan dari Forbes India November 2017. “My biggest mistake was that I always sold stocks way too early,” kata Peter Lynch. Kesalahan terbesarnya adalah selalu menjual saham terlalu dini. Peter Lynch bercerita ketika Warren Buffett menghubunginya untuk meminta ijin menggunakan kutipan Lynch untuk Annual Letter-nya. Kalimat yang WB sukai adalah, “Seling your winners and holding your losers is like cutting the flowers and watering the weeds.” Peter Lynch mengatakan bahwa kutipan tersebut justru adalah kesalahan terbesarnya.

Anda bisa baca kutipan ini di Warren Buffett Annual Letter 1988

o In 1988 we made major purchases of Federal Home Loan
Mortgage Pfd. (“Freddie Mac”) and Coca Cola. We expect to hold
these securities for a long time. In fact, when we own portions
of outstanding businesses with outstanding managements, our
favorite holding period is forever. We are just the opposite of
those who hurry to sell and book profits when companies perform
well but who tenaciously hang on to businesses that disappoint.
Peter Lynch aptly likens such behavior to cutting the flowers and
watering the weeds.

Warren Buffett Annual Letter 1988

Kutipan Peter Lynch ini sangat berkesan bagi saya. Ini menjawab “kebingungan” saya tiap kali mengalami “Abis jual, eh sahamnya terbang.”

Pesan penting yang saya tangkap dari cerita Peter Lynch dan juga bagaimana Warren Buffett sampe ngebet banget sama kutipan Peter Lynch adalah tidak ada salahnya untuk tetap memegang saham (HODL!) walau kelihatannya sudah terlalu mahal.

Berapa sering kita lihat saham mahal makin mahal? Jika kita strict jual saham di dekat harga wajar, maka kita kehilangan kesempatan “HOKI” menjual di harga madness.

Alasan Tetap HODL Saham Overpriced

Selain alasan karena Mr. Market irasional, ada beberapa alasan lainnya. Berikut ini beberapa alasan yang mendukung agar tetap HODL walau saham sudah overpriced :

  1. Seperti sudah kita bahas di atas, HOLD untuk mengeksploitasi kegilaan pasar. Membuka kesempatan jual saham di “salah harga.” Pemicunya adalah crowd madness.
  2. Bisa saja thesis kita yang salah atau kita terlewat sesuatu yang fundamental, ternyata potensi emiten di masa depan masih bisa bertumbuh pesat sehingga harga wajarnya memang masih di atas.
  3. Manajemen melakukan terobosan baru – ekspansi organik, non-organik, faktor luar yang mendukung bisnisnya, dan lain-lain – yang membuat masa depan emiten lebih cerah.

Dengan tidak menjual terlalu cepat, kita jadi lebih mungkin menikmati cuan entah karena alasan yang rasional (seperti salah hitung dll yang pada intinya harga wajarnya memang tinggi) dan/atau alasan irasional yang pada intinya pokoknya emang pasar lagi sinting aja, dude!

Exploit the Market Madness, but Don’t Join Them

Yang patut kita ingat adalah jika rencananya adalah to exploit market madness, jangan sampai kita join the madness.

Maksudnya apa?

Maksudnya adalah kita tetap disiplin waktu membeli, jangan pernah beli saham yang sudah mahal. Jangan tergoda misalnya untuk Average Up di harga mewah, kecuali anda yakin memang masih undervalued. Kita hanya enjoy the ride saja. Let your profits run, kata orang TA. Kalau memang ada yang masih mau beli di harga super mahal, kenapa tidak?

So, When To Sell?

Lalu When To Sell? Kapan saatnya jual? Saya akan terdengar sangat teknikal, ehm, ehm…. Jual ketika trennya sudah turun. Waduh, katanya investor, dude, FA only… kok jadi TA?

Saya jujur aja, saya beneran buta TA, sama sekali gak paham. Ketika saya sebut tren turun pun, saya gak ngerti dalam TA seperti apa. Tapi intinya, selama sahamnya masih naik seharusnya HODL aja. Kita kan sedang di atas angin, dude? FP lagi super tebal? Nah, ketika sahamnya keliatan udah mulai longsor, ya baru kita bisa jual.

Saya dulu gagal paham kenapa Pak JS sering sebut, gunakan Trailing Stop untuk jual saham. Tapi belakangan baru saya sadar, bahwa Trailing Stop bisa jadi salah satu strategi jual saham yang sangat baik.

Hanya saja, patut diingat. TS hanya bisa kita gunakan setelah harga pasarnya telah lewat harga wajar. Jadi kita tetap konsisten HODL selama masih di bawah harga wajar. Kalo kita pake TS saat harga di bawah harga wajar, ini jelas keliru, karena pada akhirnya kita akan Cut Loss, eh Take Loss padahal harga sahamnya lagi murah.

Alasan lain untuk jual saham, seperti telah disebut di awal, Alasan Rasional Untuk Jual Saham poin ketiga : Karena ada kesempatan yang lebih baik di aset lain.

Kekurangan

Setiap metode pasti ada kekurangan dan keterbatasannya. Misalnya seperti berikut :

  1. Kalau tiba-tiba sahamnya turun drastis, ARB berjilid-jilid, kita bisa berakhir gigit jari saja karena pada akhirnya menjual di dekat harga wajar. Malah jadi rugi waktu. Ini terutama bisa terjadi di saham non-likuid.
  2. Beberapa orang tidak punya waktu untuk dapat terus memantau harga saham. Solusinya bisa coba gunakan TS jika sekuritas anda punya fasilitas ini.

Kesimpulan

Saya akan tulis ulang lagi kalimat Peter Lynch :

Selling an outstanding fast grower because its stock seems slightly overpriced is a losing technique. – Peter Lynch.

Menurut Peter Lynch, jangan terlalu cepat jual saham. Tidak ada salahnya untuk tetap memegang saham, walau kelihatannya sudah kemahalan. Karena Mr. Market irasional, kita bisa memanfaatkannya untuk bisa jual saham dengan harga yang jauh lebih mahal dari nilai intrinsiknya.

Exploit the market madness, but don’t join them. Kita harus tetap disiplin hanya membeli saham dengan harga jauh di bawah nilai wajar.


Demikian tentang strategi jual saham agar cuan lebih optimal. Silakan kalo ada komentar, kritik, dan saran.

2 tanggapan pada “When To Sell? Strategi Jual Saham Agar Makin Cuan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.