Beranda » Psikologi Saham » Reflektivitas Pasar Saham dan Hubungannya dengan Alokasi Modal
Theory of Reflexivity

Reflektivitas Pasar Saham dan Hubungannya dengan Alokasi Modal

Saat ini, sepertinya psikologis pasar di Bursa Efek Indonesia sedang lesu, cukup berbeda dengan di market AS yang sedang “euphoria”. Di saat yang seperti ini, mungkin menarik untuk membahas Theory of Reflexivity dari George Soros. Konsep reflexivity ini sudah ada lama, tapi sepertinya jarang dibahas di pasar Indonesia. Di artikel ini, kita juga akan membahas bagaimana manajemen dapat memanfaatkan refleksivitas ini dengan alokasi modal yang ciamik untuk menciptakan shareholder value yang lebih tinggi.

Theory of Reflexivity

Intinya, di Theory of Reflexivity, Soros bilang bahwa ada hubungan dua arah (yang saling mempengaruhi) antara persepsi peserta pasar dan realitas pasar itu sendiri. Dalam konteks pasar keuangan, keputusan investor tidak hanya dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap kondisi pasar, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap pasar itu sendiri. Soros membagi refleksivitas menjadi dua komponen utama:

  1. Kognitif: Bagaimana peserta pasar memahami dunia.
  2. Manipulatif: Bagaimana peserta pasar mencoba mengubah dunia.

Bias kognitif dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, menciptakan siklus umpan balik positif atau negatif yang memperkuat tren pasar yang ada.

Seperti yang dijelaskan dalam salah satu paper Michael Mauboussin, refleksivitas memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan harga pasar untuk meningkatkan fundamental mereka. Ini menciptakan peluang bagi investor yang memahami siklus refleksif dan mengakui ketidakpastian yang dihasilkannya. Dengan demikian, Theory of Reflexivity memiliki dampak yang luas dan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi dan keuangan.

Reflexivity dan Memanfaatkan Harga Saham Tinggi

Misalnya, sebuah perusahaan dapat memanfaatkan harga saham yang tinggi untuk kembali ke pasar modal dan mengumpulkan dana melalui penawaran saham sekunder. Dana tersebut kemudian digunakan untuk melakukan akuisisi yang meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, seperti laba per saham (EPS) atau return on invested capital (ROIC). Peningkatan ini memuaskan investor, yang kemudian meningkatkan harga saham perusahaan lebih lanjut. Jika perusahaan mengulangi siklus ini, mereka dapat menikmati manfaat dari lingkaran refleksif yang menguntungkan.

Contohnya yang saya kepikiran mungkin gimana Sea Ltd (pemilik Shopee) memanfaatkan harganya di tech boom beberapa tahun yang silam pada saat harga sahamnya sangat tinggi. Ada juga Amazon waktu dot com bubble dulu.

Tentunya, ini juga dapat berlaku sebaliknya, yaitu melalui share repurchase/buyback waktu harga saham undervalued.

Saat harga saham perusahaan turun drastis, persepsi pasar mungkin menjadi sangat negatif, seringkali karena sentimen pasar yang buruk atau berita negatif terkait perusahaan atau ekonomi secara keseluruhan. Buyback bisa meningkatkan persepsi pasar, sekaligus menjadi value creating machine yang penting untuk shareholder apabila dilakukan di harga yang tepat. Praktik ini pun sudah cukup common dilakukan di pasar saham Amerika Serikat.

Reflexivity dalam Buyback Saham Saat Harga Turun

Theory of Reflexivity juga relevan dalam konteks buyback (repurchase) saham ketika harga pasar sedang turun. Manajemen yang memiliki kemampuan alokasi modal yang baik dapat meningkatkan arus kas per saham dengan membeli kembali saham saat harga saham terdepresiasi. Buyback ini bisa didanai dari arus kas yang ada atau dengan menjual aset atau divisi yang kurang produktif.

Misalnya, jika aset perusahaan menghasilkan pengembalian sebesar 12% dan saham diperdagangkan dengan diskon 50% terhadap net asset value, maka saham tersebut mengimplikasikan pengembalian 24% atas aset tersebut. Membeli kembali saham akan memberikan perusahaan pengembalian 24 persen dibandingkan dengan 12% jika diinvestasikan dalam kapasitas produksi. Selain itu, lebih sedikit saham yang beredar berarti arus kas per saham yang lebih tinggi. Berkat refleksivitas positif, pengembalian per saham (dan nilai intrinsik) bisnis meningkat meskipun aset dasar menghasilkan pengembalian yang sama.

Contohnya dilakukan oleh Texas Instruments, seperti terlampir di foto di bawah.

Henry Singleton dan Teledyne

Contoh ekstrim di keduanya pernah dilakukan oleh Henry Singleton, founder dari Teledyne yang dianggap Warren Buffett sebagai “sosok dengan track record operasional dan alokasi modal terbaik dalam sejarah bisnis Amerika”.

Di saat puncak pasar saham tahun 1966, saham Teledyne diperdagangkan di antara 50x dan 75x P/E yang menurut Singleton terlalu tinggi. Jadi apa yang dia lakukan?

Teledyne mulai menggunakan sahamnya yang dinilai overvalued untuk akuisisi lebih dari 100 perusahaan berbeda. Oleh karena itu Singleton mengeksploitasi ketidakefisienan harga sementara di pasar dengan mengubah nilai imajiner menjadi nilai nyata yang nyata untuk Teledyne. Itu adalah langkah yang brilian.

Jumlah saham yang beredar meningkat empat kali lipat dari tahun 1965 hingga 1970 (sebagian besar melalui akuisisi menggunakan saham).

Lalu di saat bear market tahun 1973 hingga 1974, seluruh pasar ambruk dan harga saham Teledyne turun 75% dari harga tertingginya di akhir tahun 1960an.

Dari tahun 1972 hingga 1984 Teledyne membeli kembali sekitar 90% sahamnya yang beredar dengan harga rata-rata 10x P/E karena mengetahui bahwa ini akan menjadi cara yang paling produktif dalam mengalokasikan modal perusahaan.

Pemegang saham yang tetap bertahan di perusahaan sejak pembelian kembali pertama telah memperoleh keuntungan sekitar 3.000% pada tahun 1983.

Kehebatan Henry Singleton ini membuat saham Teledyne dari tahun 1966 sampai 25 tahun ke depan ada pengembalian 53x atau 17.9% CAGR. Bandingkan dengan return 6,7x lipat untuk S&P 500, 9x lipat untuk General Electric, dan 7,1x lipat untuk konglomerat lain yang sebanding pada periode yang sama.

Kesimpulan

Value investor selain bisa menggunakan kesempatan saham untuk membeli saham saat undervalued, termasuk di saat pasar bearish, kita juga bisa berpartner dengan perusahaan yang menyadari akan kondisi pasar dan selalu membuat shareholder value berdasarkan fakta tersebut. Sehingga, efeknya bisa dobel.

Tentang Penulis

Calvin Kurniawan adalah value, growth and quality investor. Entertainment enthusiast.

Stockbit : @calvinkurniawan

Terbantu dengan artikel ini? Jangan lupa Trakteer, dude😎

Ada komen, dude?

Scroll to Top